Apakah Aku Menyerah? (Water World In Frame)


Pelabuhan Bakauheni Dari Kejauhan

Selat Sunda

Water World In Frame, begitu saya menyebut objek-objek ini. Foto yang saya ambil sekitar bulan Januari lalu (01/2013). Dua foto saya ambil dari atas kapal saat menyeberangi selat Sunda. Satu foto lagi saya ambil ketika singgah ke rumah seorang bibi di kampung halaman.

Ketiga foto ini punya cerita tersendiri. Dua foto yang pertama untuk saya pribadi menjadi kisah tersendiri. Saat-saat dimana ingin dan harus pulang untuk menemani istri menjelang hari kelahiran puteri pertama kami. Awalnya memang sudah saya niatkan untuk pulang mendekati awal tahun 2013. Menurut hasil USG dokter kandungan yang menangani istri saya bulan-bulan antara Januari dan awal Februari adalah waktunya. Waktu dimana saya harus menjadi suami SIAGA, Siap Antar Jaga.

Kalau tidak salah hari Jumat di awal bulan Januari. Saya bertolak dari Bintaro, Tangerang Selatan menuju terminal Lebak Bulus tepat setelah saya menunaikan shalat Jumat. Rencananya saya ingin menggunakan bus PO. Laju Prima menuju Palembang. Tidak ada rasa khawatir bila tidak kebagian tiket atau terlambat karena tertinggal bus. Saya sudah paham betul jadwal bus-bus eksekutif tujuan Palembang dan sekitarnya.

Setibanya di terminal saya pun langsung membeli tiket. Seperti biasa sembari menunggu bus yang akan saya naiki tiba saya sempatkan membeli secangkir kopi hangat. Saya pikir masih tersisa waktu 1 jam sebelum saya bertolak dari terminal menuju tanah kelahiran saya, Palembang. Tak disangka sudah lebih 30 menit dari waktu normal keberangkatan bus yang saya tunggu belum tiba.

"Ah, pulang lebaran tahun sebelumnya juga pernah seperti ini", gumam saya dalam hati... dan 30 menit pun berlalu begitu saja, hingga akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya ke loket mengapa bus yang saya tunggu belum tiba juga. Ternyata menurut petugas bus yang saya tunggu sempat terjebak macet di daerah Bekasi. "Mungkin sebentar lagi nyampe mas, sekarang sudah di perempatan lampu merah Ciputat-Fatmawati", ujar petugas loket.

Terjebak Macet Karena Cuaca Buruk

Menunggu tentunya membosankan, tapi rasa penasaran saya lebih besar. Kemudian saya bertanya pada calon penumpang lain. Hasilnya, keterlambatan ini disebabkan jalur tol Jakarta-Merak di kilometer 56 - kalau tidak salah ingat - macet karena tergenang banjir. Saya jadi teringat dengan berita yang saya saksikan di televisi nasional jika sudah satu pekan ini hujan deras disertai angin kencang melanda sebagian besar daerah di Indonesia. Termasuk daerah di sekitar Selat Sunda. Banjir dimana-mana menggenangi daerah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung dan sekitarnya. Bahkan akibat dari cuaca ekstrem ini menyebabkan ombak tinggi di laut-laut Indonesia.

30 Menit kemudian bus yang saya tunggu telah tiba di terminal Lebak Bulus. Para calon penumpang, termasuk saya, langsung menuju bus untuk bersiap berangkat. Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore lebih 15 menit. Kurang lebih 10 menit berlalu dan bus yang saya tumpangi berangkat. Kebetulan tidak ada lagi calon penumpang yang menunggu di terminal berikutnya dan bus pun langsung melaju kencang menuju pelabuhan Merak.

Butuh waktu lebih dari 4 jam untuk tiba di pelabuhan Merak. Tidak seperti biasanya karena sebagian ruas tol Merak di kilometer 56 menjadi tempat evakuasi warga korban banjir. Bahkan ada beberapa ruas yang tergenang air meski sebatas mata kaki orang dewasa. Pukul 9 malam, setelah jenuh menunggu berjam-jam bus pun tiba di pelabuhan Merak. Bus sempat singgah selama 1 jam di sebuah rumah makan yang berjarak 5 kilometer dari pintu gerbang pelabuhan. Saya sempatkan untuk menjamak shalat dan makan malam.

Perjalanan segera berlanjut. Di sini pun masih harus menunggu hampir 6 jam karena cuaca buruk dan ombak yang hampir setinggi 4 meter. Ombak yang tinggi dan hujan deras disertai angin kencang memaksa petugas pelabuhan menutup 3 dari 5 dermaga yang biasa beroperasi. Agar lalu lintas pelabuhan lebih mudah terpantau dan mengurangi resiko kecelakaan maka dari 30 armada yang beroperasi hanya separuhnya saja yang layak jalan. Kondisi yang sama juga terjadi di pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.

Waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi dan bus yang saya tumpangi masuk juga ke dalam kapal penyeberangan. Saya tidak ingat apa nama kapal dan dari dermaga mana saya naik. Selama penyeberangan kapal lebih banyak berhenti karena ombak tinggi rata-rata 3 sampai 4 meter. Jarak pandang pun sedikit terganggu karena hujan yang deras dan angin kencang.

Kurang lebih 3 jam menyeberangi selat Sunda. Setibanya di Bakauheni kapal sulit bersandar selain karena yang beroperasi hanya 2 dermaga, juga karena goncangan akibat pecahan ombak dan arus air yang kencang menghempas sisi lambung kapal. Alhamdulillah pukul 6.30 pagi kapal berhasil sandar. Tidak sulit keluar dari pelabuhan Bakauheni karena tidak ada antrian panjang seperti yang terjadi di pelabuhan Merak.

There's A Rainbow After The Storm

Sungai Musi

Sempat saya merenung setelah hampir seharian terjebak macet dan cuaca yang tidak bersahabat. Apakah ini ujian bagi seorang calon ayah? Niat dan ketulusan sepertinya sedang benar-benar diuji. Lalu saya mengeluh sepanjang perjalanan Lampung - Palembang? Tidak, karena saya pikir apa yang sudah dan akan dilalui istri saya jauh lebih berat dari pengalaman saya kemarin.
There's a rainbow after the storm.

Akan ada pelangi setelah badai berlalu. Begitu yang terbersit dalam benak saya. Ini hanya sepenggal cerita dari sebuah kisah. Ada pelajaran berharga yang bisa saya ambil. Mengarungi samudera hidup ini harus lebih optimis. Jalani saja semua skenario yang ada.

Mungkin ini yang mengingatkan saya kembali dengan kisah di atas ketika duduk merenung sendiri di belakang rumah bibi. Memandangi sungai yang teduh dan tenang. Tanpa banjir, badai, dan halilintar. Tapi arus air akan terus mengalir deras di bawahnya.

Seperti dunia yang menjadi penjara bagi sebuah kehidupan. Tampak begitu indah dan melenakan meski sebenarnya ada banyak kerikil tajam yang terhampar di hadapan. Kita harus terus melanjutkan hidup ini. Suka atau tidak, bahagia atau tidak, semua tergantung cara kita bersikap dan menjalani proses kehidupan. 

Just Smile, You Don't Cry ^____^.

Hifhzil
Husband, (formerly) Coffee Lover, Progressive Rock, A loving husband [?]. Married to a (currently) honorary angel in a regency in South Sumatra. Spoiled in his wife's arms and likes to follow his wife from the kitchen to other activities.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter