Buah Itu Bernama Kejujuran

Apa yang kita geluti selama ini mungkin tak ubahnya sebuah dramaturgi. Berbagai topeng menghiasi paras kita dengan lumrahnya dalam berperan. Pertanyaannya, sampai kapan kita mampu menutupi semua itu kala peran yang kita lakoni adalah palsu?

Jawabannya ada pada sejauh apa kita mampu untuk jujur. Kejujuran itu sederhana tapi tak sesederhana saat mengungkapnya, menyingkap tabir yang selama ini menghalangi mata hati menelusuri pekatnya sebuah jiwa.

Terkadang jujur itu menyakitkan. Tak ubahnya rasa pahit obat untuk meredakan rasa sakit. Obat sendiri tidak akan menyembuhkan karena ia dengan konsep idea-nya sekadar mengurangi rasa sakit (penderitaan). Obat adalah penenang, penentram jiwa. Tak kurang dan tidak lebih.

Namun bilamana saat itu tiba, saat kita harus berlaku jujur dengan kepedihan yang kita lalui atas semua kebohongan yang kita buat. Mampukah kita bergelut dengan pahitnya buah dari rasa kejujuran? Karena jujur itu benar dan kebenaran haruslah jujur.

Hifhzil
Husband, (formerly) Coffee Lover, Progressive Rock, A loving husband [?]. Married to a (currently) honorary angel in a regency in South Sumatra. Spoiled in his wife's arms and likes to follow his wife from the kitchen to other activities.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter